11/27/2009

blogger's biography


Muhammad Rusli Nur Ikhwan lahir di Jakarta 7 januari 1991. Ia tinggal di kawasan Cilandak Barat di bilangan Jakarta Selatan. Ia putra dari seorang guru yang sangat bijaksana dan seorang ibu yang merawat anak-anaknya dengan kasih sayang. Masa kecilnya di isinya banyak hal yang positif maupun negatif. Pada umur 3 tahun, sebuah kejadian yang membuat satu keluarga terpukul. Ia terjatuh di sebuah kolam ikan dan dokter telah memvonis bahwa jiwanya sulit untuk di selamatkan, tetapi berkat doa yang dihaturkan, ia terbangun dan berangsur-angsur pulih kembali. Pada umur 5 tahun, ia mencoba memasuki ke jenjang pendidikan taman kanak-kanak. Tetapi ia sangat tidak menikmati saat-saat itu, ia hanya beranggapan taman kanak-kanak hanya bermain tanpa mengenal belajar. Dengan dasar itu, orang tuanya pun memasukan dia ke sekolah dasar. Namun sekolah dasar menolak karena umur yang masih belum mencukupi untuk memasuki sekolah dasar. Tapi akhirnya ia menemukan sekolah dasar negeri, yang mau menerima. SDN 10 Petang Cilandak, sekolah yang keadaannya berbeda dengan sekolah-sekolah lainnya. Sekolah itu hanya berisikan 8 murid rata-rata tiap kelasnya. Mungkin dikarenakan sekolah itu baru memulai jam belajarnya pada siang hari, jadi orang-orang enggan memasukan anaknya kesana. Tapi ia tidak memandang sebelah mata, ia tetap bersekolah dengan sungguh-sungguh. Tak dapat diragukan lagi ia selalu memegang peringkat satu di SD itu.

Pada saat ia kelas 4 SD, ada berita buruk yang tersebar. Sekolah kesayangan itu akhirnya di likuidasi.
Semua muridnya menyebar ke sekolah-sekolah dasar lainnya. Begitu juga ia, ia pindah ke SDN 15 PAGI CILANDAK. Ia sangat sulit beradaptasi dikarenakan ia baru mengenal sekolah yang ramai isinya. Tetapi ia tetap belajar dengan sungguh-sungguh. Tidak sia-sia, ia tetap memegang peringkat satu di kelasnya. Sampai ketika ia menghadapi general test guna memasuki SMP yang dia inginkan, dengan perjuangannya, ia memasuki SMP favoritnya, SMPN 68 CIPETE SELATAN Pada masa SMP ia menghadapi persaingan yang kompetitif, banyak orang yang bersungguh-sungguh untuk sekolah di situ. Ia merasa tertantang dan belajar makin sunggugh-sungguh, sampai pada ia masuk ke kelas unggulan kesatu. Ia belum puas dengan apa yang sudah di capai, namun kenyataan berkata lain. Ia tidak sanggup untuk memegang peringkat satu yang ia sering sandang di sekolah dasar. Sampai pada waktu UAN. Ia tidak mau mengecewakan orang tuanya, ia belajar dengan sungguh-sungguh.

Perjuangan itu tidak sia-sia, ia mendapatkan nilai UAN yang tinggi dan memasuki sekolah menengah negeri unggulan di Jakarta selatan, SMAN 70 JAKARTA. Ia tidak menyangka di sekolah unggulan itu masih melakukan aksi tawuran pelajar. Awalnya ia berfikir aksi ini sangat amat negatif. Pada suatu ketika ia terpaksa ikut ke medan perkelahian dengan paksaan senior-senior, di situ ia bias mengambil sisi positifnya, satu sama lain melindungi dari serangan musuh, itu membuat solidaritas semakin tinggi. Kemudian ketika ada salah satu temannya yang terluka, mereka beramai-ramai mengumpulkan uang untuk yang terluka, bahkan sampai ada yang rela tidak makan, indahnya sebuah pertemanan. Ia banyak belajar banyak hal di SMA. Ia mulai merasakan pentingnya sebuah teman, ia mulai, merubah pola pikir yang kekanak-kanakan menjadi dewasa, melihat sudut pandang tidak lagi subjektif. Sampai pada ia kelas tiga dimana ia dituntut belajar sugguh-sungguh untuk menghadapi Ujian Akhir Nasional yang saat itu berjumlah enam pelajaran.

Ia pun mulai kembali membangun semangatnya untuk itu. Mulai memasuki bimbingan belajar dan les-les privat. Ia berniat melanjutkan studinya ke Universitas Padjadjaran Bandung. Akhirnya sampai pada saatnya Ujian Akhir Nasional.
Usaha ia tidak sia-sia, ia dengan mudah mengerjakan soal-soal yang banyak menganggap soal itu sulit. Saat surat kelulusan keluar, ia mendapatkan hasil yang memuaskan, lulus dengan nilai yang cukup tinggi. Tapi ia tidak hanyut dalam kesenangan. Ia harus belajar dengan giat lagi untuk menghadapi tes-tes masuk universitas negeri terkemuka. Ia pun mengikuti SMUP UNPAD yang di adakan di Bandung dan memilih Fakultas Ilmu Komunikasi. Ia memlih Komunikasi dikarenakan hobinya yang suka di dunia entertainment. Ia menunggu-menunggu dengan cemas sampai hasil tes keluar. Sampai pada saat tes itu keluar, ia dapat masuk ke Universitas unggulan itu.

Ia sangat puas ternyata usahanya slama ini tidak sia-sia. Sekarang, ia menjadi mahasiswa Universitas Padjadjaran Fakultas Ilmu Komunikasi Kampus Bandung. ia berharap dapat menyelesaikan studinya dengan baik dan bekerja di bidang yang ia sukai.

-ruslikhwan-

1 comments:

nonaphoni said...

lengkap bgt luk, ada bagian berdarahnya pula hahaha..lucu lucu

Post a Comment

leave a comment please :)

Followers